Dakwah Islam adalah pekerjaan yang tidak ringan, kondisi da’i (penyeru dakwah islam) seringkali dihadapkan pada kenyataan bahwa ummat belum tertarik dengan kemasan dakwah islam yang monoton (ceramah, tabligh, taushiah, dll) dibutuhkan variasi dalam kemasan dakwah islam.
Sebagai aktifis masjid seharusnya kita tanggap dalam hal ini. Ada beberapa program penyertaan kepada ummat yang mungkin dapat mengajak mereka berpartisipasi dalam dakwah islam ini bukan hanya sebagai pendengar tetapi juga sebagai penyampai dangan bingkai sampaikanlah walau hanya 1 ayat.
Untuk sementara abaikan setiap kecaman yang mangatakan bahwa tidak pantas seseorang berdakwah atau menyampaikan ceramah sementara pribadinya belum sesuai (biasanya menggunakan dalil Qs. Asshof ayat 2 dan 3), tujuan kita sementara membuat malu bagi setiap jamaah yang telah meyampaikan dakwah islam tetapi dalam kenyatannya masih belum sesuai.
Terdapat salah satu dari sekian banyak kultum yang bisa kita gunakan untuk disampaikan kepada para jamaah yaitu tentang :
BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(Muqaddimah)
Jamaah subuh masjid Al-Kautsar yang dimulyakan Allah,
Dakwah Islam melalui Kultum Shubuh – Menyertai subuh yang penuh barokah ini, saya mengajak jamaah semua untuk tak henti-hentinya memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas begitu banyaknya nikmat yang telah kita terima dari Dia, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW beserta sahabat-sahabatnya yang telah membawa kita semua menjadi muslim, dan insyaallah mukmin yang baik.
Jamaah yang saya hormati,
Judul Kultum kita pagi ini adalah Berserah Diri Kepada Allah.
Allah SWT berfirman dalam surat Lukman (31): 22 :
Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah lah kesudahan segala urusan.
Yang dimaksud dengan berserah diri ialah menyerahkan jiwa seutuhnya kepada Allah dengan keyakinan penuh bahwa Dia Yang Maha Suci dan Maha Pengatur pasti memilihkan yang terbaik bagi manusia. Berserah diri bukanlah berarti mengabaikan usaha, tetapi justru harus berupaya sekuat kemampuan yang ada.
Gambaran orang yang berserah diri
Gambaran orang yang berserah diri adalah seperti orang yang menggantungkan jiwanya pada Arasy Allah, sementara kakinya menapak di bumi.
Orang yang berserah diri, ikhlas menerima segala ketentuan, musibah ataupun nikmat, yang dipilihkan Allah baginya. Yakin bahwa Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak mungkin menganiaya hamba-Nya.
Untuk dapat berserah diri, diperlukan sikap mental yang positif. Dasarnya adalah, kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah. Meyakini bahwa ketentuan apa pun yang ditetapkan Allah bagi kita, merupakan pilhian yang terbaik, yaitu sejalan dengan apa yang selalu kita mohonkan pada setiap shalat (….ihdinashshiraathal mustaqim).
Agar kita selalu berprasangka baik kepada Allah, renungkanlah ilustrasi ringan berikut ini.
Seorang pemilik kebun yang ahli dalam bidang pertanian, memotong-motong cabang atau dahan pohon agar pohon itu kelak menghasilkan buah yang banyak. Sekiranya saja pohon itu dapat merasa, perbuatan baik ini tentunya akan dianggapnya sebagai suatu penyiksaan yang kejam.
Atau seorang ibu, demi kasih sayangnya kepada anaknya tidak memenuhi permohonan anaknya karena akan mendatangkan mudharat, meskipun anaknya sangat menginginkannya.
Begitu juga Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Terkadang Ia memberi bencana, karena kalau bencana itu tidak diberikan, maka manusia tidak akan mampu mengambil pelajaran. Ia melarang hamba-Nya untuk mengikuti hawa nafsunya, semata-mata demi kebaikan si hamba itu sendiri. Tentu saja bagi orang yang tidak mengenal sifat-sifat Allah, ia tidak akan mengerti akan hal ini, bahkan balik menuduh Allah berlaku sewenang-wenang.
Sebaliknya bagi orang yang mengerti apa maksud tindakan Allah itu, jiwanya akan selalu rela dan pasrah, baginya apapun ketetapan yang Allah pilihkan untuknya ia yakin memang itulah yang terbaik. Dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad, Rasulullah SAW bersabda :
Demi Allah yang jiwaku ditangan-Nya, tidaklah Allah menetapkan satu ketetapan bagi seorang mukmin melainkan hal itu baik baginya, dan yang demikian itu hanya bagi seorang mukmin.
Penegasan Allah dalam surat Al-Anfaal (8):51:
”Demikian itu disebabkan karena perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya.”
Dari uraian di atas, tampaknya memang tidak ada pilihan lain bagi orang yang berakal selain harus yakin bahwa kejadian yang menurut mata manusia indah, sesungguhnya belum tentu baik menurut Allah. Demikian juga kejadian yang kita pandang buruk, belum tentu jelek dalam pandangan Allah.
Janji Allah bagi orang yang berserah diri, dalam surat Ath-Thalaq (65):3 :
Barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya (memeliharanya).
Rasulullah SAW pun bersabda :
Jika kalian berserah diri kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, niscaya Allah menjamin rezekimu sebagaimana Allah menjamin kebutuhan burung yang terbang di waktu pagi dengan perut kosong, dan pulang di waktu sore dengan perut kenyang. (Riwayat Imam Akhmad dan Tirmidzi)
Nabi Ibrahim AS pernah bersabda :
Salah satu sebab aku menjadi kekasih Allah adalah karena aku tidak pernah merisaukan sesuatu yang telah ditanggung oleh Allah.
Indikator Keberhasilan Berserah Diri
Adapun indikator keberhasilan berserah diri, yaitu tidak adanya rasa was-was, khawatir atau pun kecewa. Yang ada adalah ucapan dengan penuh rasa syukur alhamdulillah atau dengan penuh rasa ikhlas innalillahi wainnaillaihi rojiun.
Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” Al-Baqarah (2):112.
Bagi orang yang berserah diri, ia tidak akan mengeluh atau protes kepada Allah atas ketentuan yang ditetapkan padanya. Tindakan yang dilakukannya hanya semata-mata karena taat mematuhi perintah Allah.
Dia berlaku baik bukan sebagai balasan karena orang telah berbuat baik kepadanya, tetapi kebaikan itu dilakukannya semata-mata karena Allah memerintahkan manusia untuk berbuat kebajikan. Pandangan bathinnya polos sebagaimana adanya, tidak ada buruk sangka. Lirikannya tanpa disertai emosi. Jiwanya tidak terguncangkan oleh adanya stimulan baik yang berasal dari dalam jiwanya sendiri maupun yang berasal dari lingkungannya. Dia dapat merasakan kaya tanpa harta, sakti tanpa ilmu.
Semuanya ini hanya dapat terjadi jika kita sudah mampu menjadikan taat sebagai senjata untuk melawan nafsu buruk/himbauan syeitan.
Sebagai kesimpulan, kunci agar dapat berserah diri kepada Allah adalah kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah.
Berusahalah dahulu dengan segenap kemampuan yang ada, kemudian serahkan ketentuan hasilnya kepada Allah. Apapun hasil yang diperoleh dari usaha kita itu, yakinlah bahwa itu merupakan yang terbaik atau yang paling sesuai dengan kebutuhan kita saat ini, yaitu sejalan dengan permintaan kita pada setiap shalat (….ihdinashshiraathal mustaqim).
Ingat pula bahwa musibah yang menimpa bukanlah untuk ditangisi, tetapi merupakan isyarat dari Allah agar kita segera berbenah diri, melakukan introspeksi adakah aturan main-Nya yang kita langgar.
Bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka ..” Al-Maidah (5):49
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri..” An-Nisaa’ (4):79.
Jamaah subuh yang saya hormati, demikianlah apa yang dapat saya sampaikan. Bila ada kekurangan mohon dimaafkan. Semoga ada manfaatnya bagi diri saya dan kita semua.
Hadanallahu wa iyakum ajmain. Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(Sumber: Bahan Renungan Kalbu – Pengantar Mencapai Pencerahan Jiwa, oleh : Ir. Permadi Alibasyah)
Saudaraku seperjuangan beberapa point yang kita dapat :
1. Mereka (jamaah) menyampaikannya dengan penuh semangat mulai dari mencari artikel
2. Bersungguh-sungguh bangun pagi dan sholat di masjid
3. Toleransi dalam mendengarkan kultum shubuh yang disampaikan para jamaah
4. Saling menasehati dalam kebaikan, dan takwa.
5. Siap memperbaiki diri dari kesalahan