Tentang Masjid Darul Jannah
Masjid Darul Jannah terletak di Teluk Air, sebuah kampung tua di tepi laut di Kecamatan Karimun. Kampung tua ini dibuka oleh Raja Haji Idris dan Raja Arpek, zuriat dari raja-raja Riau-Lingga, yang pindah dari daerah Mandah di Indragiri Hilir ke Teluk Air pada tahun 1920-an. Setelah beberapa tahun menetap dan membuka Kampung di Teluk Air, Raja Idris membangun sebuah surau kayu dengan arsitektur rumah panggung melayu pada tahun 1930-an. Surau itulah yang kemudian dikenal sebagai Surau Teluk Air, dan menjadi cikal bakal Masjid Darul Jannah yang kini berdiri megah.Sebelum berubah menjadi masjid, surau tua ini direnovasi terlebih dahulu. Dari awalnya bangunan kayu, setelah direnovasi, menjadi bangunan beton dan berkubah seng. Renovasi ini dilakukan oleh Raja Achmad, Asisten Wedana Karimun, yang merupakan anak Raja Haji Idris, pada tahun 1950-an. Pada tahun 1950-an itu juga nama Darul Jannah mulai dipergunakan sebagai nama baru untuk bangunan surau yang telah direnovasi itu. Denah bangunan surau permanen yang baru itu berbentuk empat persegi, mengunakan atap limas dengan dua kubah seng model ‘bawang’, menghiasi kemuncak atapnya. Kubah pertama merupakan kubah terbesar, terletak di kemuncak atap limas yang melindungi ruangan utama. Sedang kubah kedua yang lebih kecil, menghiasi bagian atas mihrabMasjid Darul Jannah terletak di Teluk Air, sebuah kampung tua di tepi laut di Kecamatan Karimun. Kampung tua ini dibuka oleh Raja Haji Idris dan Raja Arpek, zuriat dari raja-raja Riau-Lingga, yang pindah dari daerah Mandah di Indragiri Hilir ke Teluk Air pada tahun 1920-an. Setelah beberapa tahun menetap dan membuka Kampung di Teluk Air, Raja Idris membangun sebuah surau kayu dengan arsitektur rumah panggung melayu pada tahun 1930-an. Surau itulah yang kemudian dikenal sebagai Surau Teluk Air, dan menjadi cikal bakal Masjid Darul Jannah yang kini berdiri megah.Sebelum berubah menjadi masjid, surau tua ini direnovasi terlebih dahulu. Dari awalnya bangunan kayu, setelah direnovasi, menjadi bangunan beton dan berkubah seng. Renovasi ini dilakukan oleh Raja Achmad, Asisten Wedana Karimun, yang merupakan anak Raja Haji Idris, pada tahun 1950-an. Pada tahun 1950-an itu juga nama Darul Jannah mulai dipergunakan sebagai nama baru untuk bangunan surau yang telah direnovasi itu. Denah bangunan surau permanen yang baru itu berbentuk empat persegi, mengunakan atap limas dengan dua kubah seng model ‘bawang’, menghiasi kemuncak atapnya. Kubah pertama merupakan kubah terbesar, terletak di kemuncak atap limas yang melindungi ruangan utama. Sedang kubah kedua yang lebih kecil, menghiasi bagian atas mihrabTahun 1960-an, surau tua ini diubah menjadi masjid. Perubahan ini ditandai dengan penambahan luas ruangan masjid dan pembanguan Madrasah Tsanawiyah yang terus dilengkapi bangunannya pada tahun 2000-an. Pada tahun 2006, dilakukan pemugaran dan renovasi besar-besaran terhadap banguan masjid ini. Seluruh bangunan masjid lama dibongkar dan dibangun kembali hingga wujudnya seperti yang tampak pada saat ini.Dalam perjalanan sejarahnya, masjid ini pernah direncanakan sebagai tapak pembangunan masjid baru sumbangan Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila untuk wilayah Kecamatan Karimun, Kabupaten kepulauan Riau, pada tahun 1987. Namun, rencana itu batal dilakukan karena statusnya ketika itu, merupakan masjid yang berdiri diatas tanah milik keluarga (masjid keluarga). Sebagai gantinya, lokasi pembangunan masjid sumbangan Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila itu dialihkan ke ‘Masjid Pasar’ atau ‘Masjid Raya Tanjungbalai’ yang kini dikenal sebagai Masjid Baitul Karim.Pada tahun 1980-an, ketika telah menjadi masjid yang besar, Darul Jannah sangat terkenal di kalangan jama’ah Tabligh dari India, Pakistan, Bangla, dan Inggris. Hal itu menjadikan masjid ini sebagai markas awal jamaah Tabligh di Kepulauan Riau pada tahun 1980-an.Raja Idris yang membangun Surau Teluk Air atau cikal bakal Masjid Darul Jannah lahir di Kuala Mandah, Indragiri Hilir. Saat beliau wafat, jasadnya dimakamkan di Kampung Teluk Air, Karimun, pada tahun 1965. Semasa hidupnya, Raja Idris adalah tokoh penting Kampung Teluk Air dan menjadi tuan tanah di kawasan yang kini bernama Coastal Area. Secara turun temurun, sejak masih berupa surau hingga berubah menjadi masjid pada tahun 1960-an, pengurusannya dilaksanakan oleh Raja Haji Idris dan zuriatnya. Setelah Raja Haji Idris mangkat, pengurusan masjid itu dilanjutkan secara berturut-turut oleh Raja Sulaiman, dan kemudian oleh Raja Haji Aran. Diperkirakan Raja Haji Aran inilah yang memutuskan memberi nama Masjid Darul Jannah. Pada saat ini, Masjid Darul Jannah dikelola oleh Yayasan Darul Jannah yang didirikan pada tahun 1990. Yayasan yang sama juga mengelola Madrasah Tsanawiyah Darul Jannah yang menjadi bagian dari masjid tersebut. Komplek pemakaman Raja Haji Idris dan keluarganya terletak sekitar 200 Meter di sebelah u tara Masjid. Hingga kini, masih ramai kerabat-kerabat diraja dari Singapura dan Malaysia yang berziarah ke komplek makam ini.(Dikutif dari buku Khazanah Masjid Bersejarah Bumi Berazam).