Management Lembaga Da’wah Islam – Islam agama bagi seluruh umat manusia, tidak hanya untuk ras atau golongan tertentu, karena itu perlu disebarluaskan melalui gerakan da’wah. Secara etimologi da’wah berarti seruan. Secara terminologi, da’wah Islam dapat diartikan sebagai: “Seruan kepada seseorang atau kelompok manusia, baik muslim maupun non muslim, untuk mengikuti agama Islam”. Menda’wahkan Islam berarti mengajak umat manusia kepada aqidah tauhid, membimbing mereka ke jalan yang lurus dan menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat, serta untuk mendapatkan keridloan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Setiap muslim diharapkan memiliki komitmen da’wah dalam menyebarkan agama Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Setiap muslim juga bertanggungjawab untuk melaksanakan dan memberi dukungan da’wah islamiah – baik itu ulama, ustadz, mubaligh, ilmuwan, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, militer, polisi, pejabat, konglomerat, businessman, direktur, profesional, karyawan, petani, pekerja maupun orang biasa sekalipun – seberapapun kemampuan, dukungan, partisipasi maupun prestasinya.

DA’WAH KOLEKTIF
Management Lembaga Da’wah Islam – Dalam kehidupan umat manusia diperlukan adanya segolongan orang yang peduli terhadap ‘amar ma’ruf nahi munkar. Kepedulian tersebut, insya Allah, akan membawa dan menjaga umat manusia selalu berada di jalan Allah. Para mujahid da’wah termasuk orang-orang yang beruntung karena telah mengikuti perintah Rabb-nya: ” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung ” (QS 3:104, Ali Imran).
Misi da’wah dapat dilaksanakan secara individual, akan tetapi da’wah secara kolektif dan profesional merupakan kebutuhan di era modern. Dengan bekerja sama dalam Lembaga Islam, insya Allah, akan memberi hasil yang lebih efektif, efisien dan memuaskan.
AKTIVITAS DA’WAH
Management Lembaga Da’wah Islam – Pada hakekatnya setiap organisasi atau Lembaga Islam adalah merupakan lembaga da’wah Islam, hanya saja pendekatan masing-masing mungkin berbeda. Ada yang menekankan pada pendidikan, pelatihan, ekonomi, sosial, ataupun politik; namun ada juga yang berda’wah secara langsung. Sedang aktivitas mereka dapat berupa da’wah dengan pikiran (bilfikr) dengan tindakan langsung (bilhal), dengan ucapan (billisan), dengan harta (bilmal), dengan tulisan (bilqalam) maupun dengan jiwa (binnafs).
Aktivitas da’wah perlu dilakukan dengan cara yang baik, sehingga dapat menumbuhkan sikap simpati obyek da’wah, bukan antipati. Sehingga da’wah (seruan) menjadi menarik, dan insya Allah, dapat membawa kepada kesuksesan. “Serulah kepada jalan (agama) Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya”. (QS 16:125, An Nahl).
Aktivitas da’wah juga perlu didukung para aktivis yang konsisten dalam perjuangan, yaitu mereka yang tetap memiliki komitmen da’wah yang tinggi dalam suka dan duka. Konsistensi da’wah, biasanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki keterpaduan antara iman, ilmu dan amal shalih serta ‘amar ma’ruf nahi munkar-nya. Merekalah orang-orang yang layak mendapat predikat “umat terbaik” (khairu ummah), seperti yang telah dicapai oleh Rasulullah s.a.w. dan para shahabatnya. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS 3:110, Ali ‘Imran)
ORGANISASI DAN MANAGEMENT DA’WAH
Management Lembaga Da’wah Islam – Sebagaimana telah diketahui, bahwa setiap muslim harus memiliki komitmen dalam menda’wahkan Islam. Keterlibatan dalam da’wah dapat dilakukan baik dalam lingkup fardiyyah, halaqah, harakah, daulah, khilafah maupun ‘alamiah. Hanya saja lingkup da’wah tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan umat Islam dalam merealisasikan sistim Islam dalam kehidupan mereka, baik secara individual maupun kolektif.
Sampai saat ini dapat dikatakan, kebanyakan perjuangan da’wah Islam, termasuk di Indonesia, sedang memasuki era da’wah harakah (pergerakan terorganisir). Tidak mengherankan bila muncul lembaga Islam di mana-mana, baik yang bersifat lokal, nasional maupun internasional.
Keberadaan Lembaga Islam diharapkan mampu menyahuti kebutuhan da’wah yang semakin beragam. Umat Islam menuntut pelayanan da’wah yang mampu menyahuti kebutuhan dan keinginan mereka. Tidak semua segmen dapat dipenuhi oleh satu lembaga saja, sehingga diperlukan beraneka ragam Lembaga Islam dengan berbagai aktivitasnya. Masing-masing dibentuk bukan untuk saling menyaingi, akan tetapi dalam rangka ber-fastabiqul khairat untuk menegakkan kalimat Allah.
Sebagaimana organisasi pada umumnya, Lembaga Islam perlu memperhatikan tata cara berorganisasi yang baik, di antaranya yaitu:
1. Memiliki tujuan yang jelas dan terdefinisikan,
2. Kepemimpinan yang berjenjang.
3. Sistim organisasi yang terstruktur.
4. Strategi dan taktik yang realistis.
5. Pemahaman ilmu pengetahuan yang luas.
6. Dukungan kemampuan teknis para aktivis.
Dari segi pengelolaan mereka juga perlu memperhatikan beberapa hal penting yang menjadi fokus dalam management, yaitu:
1. Perencanaan yang tertata rapi.
2. Aktivitas yang terorganisir.
3. Implementasi program dalam tindakan.
4. Pengawasan dan pemantauan yang terukur.
5. Perbaikan yang berkelanjutan.
Perjuangan da’wah melalui Lembaga Islam
Perjuangan da’wah terorganisir melalui Lembaga Islam seharusnya memanfaatkan segenap faktor management, baik material, man, money, method, machine, market maupun morale. Juga dibarengi dengan penataan ideologi, strategi, taktik dan teknik yang canggih dan terperinci di mana:
1. Ideologi dinyatakan dalam tujuan puncak (ultimate goal) organisasi yang dirumuskan dari asas dan dicapai dengan merealisasikan visi, misi maupun values (nilai-nilai) luhur pergerakan.
2. Strategi dinyatakan dalam bentuk konstitusi dan policy organisasi, berupa: Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Pedoman-pedoman Dasar Organisasi dan Garis-Garis Besar Haluan Organisasi atau Kebijakan Dasar Organisasi.
3. Taktik dinyatakan dalam bentuk penyusunan program kerja, baik jangka panjang, jangka menengah maupun jangka pendek. Program tersebut terderivasi dari tingkat kepengurusan tertinggi hingga kepengurusan paling bawah. Setelah itu dilakukan penjabaran sesuai dengan periode, partisi dan segmentasinya.
4. Teknik dinyatakan dalam bentuk aktivitas nyata di lapangan, baik dalam bentuk kepengurusan, kepanitiaan, pelatihan maupun aktivitas lainnya. Aktivitas tersebut diukur tingkat keberhasilannya, sehingga dapat dilakukan perbaikan.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (QS 3: 104, Ali ‘Imran)
P E N U T U P
Di zaman modern ini, da’wah secara kolektif sebagai bentuk ‘amal jama’i sangat dibutuhkan umat. Keberadaan Lembaga Islam sangat penting, khususnya di era abad ke-15 yang telah dicanangkan umat Islam sedunia sebagai Abad Kebangkitan Islam. Hadirnya Management Lembaga Da’wah Islam yang beraktivitas da’wah, baik secara langsung maupun tidak langsung, dimaksudkan untuk mengaktualisasikan da’wah Islam secara lebih baik.
Lembaga Islam perlu merumuskan dirinya dengan menetapkan tujuan, visi, misi dan value serta cara-cara yang akan ditempuh dalam mencapainya. Dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman segala posisi dan kondisi lembaga dirumuskan agar dapat lebih terarah dan realistis.