Karakteristik SDM Jama’ah MASJID

Karakteristik SDM Jama’ah MASJID
Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Takmir Masjid adalah organisasi yang memiliki kaitan sangat erat dengan Islam dan Masjid. Setelah mengikuti aktivitas yang diselenggarakan diharapkan sumber daya manusia (SDM) yang menjadi jama’ahnya, insya Allah, dapat memiliki karakter yang islami. Berikut ini adalah beberapa karakter yang diharapkan dapat menjadi Karakteristik SDM Jama’ah MASJID.
𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙪𝙢𝙖𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖, 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖’𝙧𝙪𝙛, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙚𝙜𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙪𝙣𝙠𝙖𝙧, 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝. (𝙌𝙎 3:110, 𝘼𝙡𝙞 ‘𝙄𝙢𝙧𝙖𝙣)
Islam adalah jalan hidup

𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐁𝐄𝐑𝐈𝐌𝐀𝐍

Sebuah Persaksian
Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Seorang manusia dapat disebut muslim setelah dia mengucapkan syahadah, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Dengan ucapan persaksian ini dia telah menjadi bagian jama’ah muslimin dan bersaudara karena agama. Selanjutnya dia terpelihara darah, kehormatan dan hartanya.
𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑑𝑎 𝑝𝑎𝑘𝑠𝑎𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 (𝑚𝑒𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘𝑖) 𝑎𝑔𝑎𝑚𝑎 (𝐼𝑠𝑙𝑎𝑚); 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ. 𝐾𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑖𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑇ℎ𝑎𝑔ℎ𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑖𝑎 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢ℎ𝑢𝑙 𝑡𝑎𝑙𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑚𝑎𝑡 𝑘𝑢𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑡𝑢𝑠. 𝐷𝑎𝑛 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑀𝑎ℎ𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑟 𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑀𝑎ℎ𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖. (𝑄𝑆 2:256, 𝐴𝑙 𝐵𝑎𝑞𝑎𝑟𝑎ℎ).
𝑃𝑎𝑑𝑎 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑖𝑛𝑖 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑢𝑠𝑒𝑚𝑝𝑢𝑟𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑎𝑔𝑎𝑚𝑎𝑚𝑢, 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑢𝑐𝑢𝑘𝑢𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎𝑚𝑢 𝑛𝑖’𝑚𝑎𝑡-𝐾𝑢, 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑢𝑟𝑖𝑑𝑙𝑜𝑖 𝐼𝑠𝑙𝑎𝑚 𝑖𝑡𝑢 𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑎𝑔𝑎𝑚𝑎 𝑏𝑎𝑔𝑖𝑚𝑢. (𝑄𝑆 5:3, 𝐴𝑙 𝑀𝑎𝑖𝑑𝑎ℎ).
𝑆𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑔𝑎𝑚𝑎 (𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑟𝑖𝑑𝑙𝑜𝑖) 𝑑𝑖 𝑠𝑖𝑠𝑖 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑛𝑦𝑎𝑙𝑎ℎ 𝐼𝑠𝑙𝑎𝑚. 𝑇𝑖𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖 𝐴𝑙 𝐾𝑖𝑡𝑎𝑏 𝑘𝑒𝑐𝑢𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎, 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑘𝑖𝑎𝑛 (𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑑𝑎) 𝑑𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎. 𝐵𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑓𝑖𝑟 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑦𝑎𝑡-𝑎𝑦𝑎𝑡 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡 ℎ𝑖𝑠𝑎𝑏-𝑁𝑦𝑎. (𝑄𝑆 3:19, 𝐴𝑙𝑖 ‘𝐼𝑚𝑟𝑎𝑛).
𝐵𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑔𝑎𝑚𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛 𝑎𝑔𝑎𝑚𝑎 𝐼𝑠𝑙𝑎𝑚, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖-𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 (𝑎𝑔𝑎𝑚𝑎 𝑖𝑡𝑢) 𝑑𝑎𝑟𝑖𝑝𝑎𝑑𝑎𝑛𝑦𝑎, 𝑑𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑎 𝑑𝑖 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑟𝑢𝑔𝑖. (𝑄𝑆 3:85, 𝐴𝑙𝑖 ‘𝐼𝑚𝑟𝑎𝑛).

Islam adalah jalan hidup

Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Islam adalah jalan hidup (way of life) yang dihadirkan untuk umat manusia. Keislaman seseorang tidaklah cukup hanya dalam ucapan syahadah saja, atau lebih luas dengan apa yang disebut sebagai rukun Islam. Islam harus diterima secara kaffah atau totalitas, tidak menerima sebagian dan menolak sebagian ajaran Islam yang lain karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya.
𝐻𝑎𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛, 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑘𝑒 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐼𝑠𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛, 𝑑𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑡𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ-𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ 𝑆𝑦𝑎𝑖𝑡𝑎𝑛. 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑆𝑦𝑎𝑖𝑡𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢 𝑚𝑢𝑠𝑢ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑎𝑔𝑖𝑚𝑢. (𝑄𝑆 2:208, 𝐴𝑙 𝐵𝑎𝑞𝑎𝑟𝑎ℎ).
Demikian pula setelah beriman seorang mukmin harus tetap istiqomah (konsisten) di dalam keimanan itu. Meskipun cobaan dan rintangan datang silih berganti dalam kehidupannya.
𝘒𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘨𝘶. (𝘘𝘚 2:147, 𝘈𝘭 𝘉𝘢𝘲𝘢𝘳𝘢𝘩).
Jama’ah Masjid tidaklah cukup disebut muslim, tetapi dia harus mukmin. Artinya, Islam yang telah dipilihnya harus menjadi suatu keyakinan yang terimplementasi, bukan sekedar formalitas tanpa tindak lanjut atau bukti keimanan. Sebagaimana makna iman itu sendiri sebagai kepercayaan yang diyakini dalam hati, diucapkan secara lesan dan diimplementasikan dalam amal perbuatan.
𝐴𝑝𝑎𝑘𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑖𝑡𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑟𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑤𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑑𝑖𝑏𝑖𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛: “𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛”, 𝑠𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑢𝑗𝑖 𝑙𝑎𝑔𝑖?. 𝐷𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑢𝑗𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝐷𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑢𝑠𝑡𝑎. (𝑄𝑆 29:2-3, 𝐴𝑙 𝐴𝑛𝑘𝑎𝑏𝑢𝑡).
Bukti daripada keimanan itu adalah taqwa yang nampak dalam perilaku amal shalih. Taqwa menjadi ukuran dan kriteria sejauh mana keimanan seorang muslim. Taqwa inilah yang menjadi sasaran upaya pembinaan jama’ah. Dengan ketaqwaannya mereka akan berusaha mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
𝐻𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎, 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑖𝑝𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟𝑒𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑎𝑛𝑔𝑠𝑎-𝑏𝑎𝑛𝑔𝑠𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑢𝑘𝑢-𝑠𝑢𝑘𝑢 𝑠𝑢𝑝𝑎𝑦𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑙 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑎𝑙. 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑙𝑖𝑎 𝑑𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑑𝑖 𝑠𝑖𝑠𝑖 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑎𝑞𝑤𝑎 𝑑𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢. 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑀𝑎ℎ𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖 𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑀𝑎ℎ𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑎𝑙. (𝑄𝑆 49:13, 𝐴𝑙 𝐻𝑢𝑗𝑢𝑟𝑎𝑡).

𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐁𝐄𝐑𝐈𝐋𝐌𝐔

Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Jama’ah Masjid seharusnya berusaha memperdalam pengetahuan tentang ajaran Islam sesuai dengan kemampuannya, dan dilakukan sepanjang hidupnya (long life education). Karena sebagai seorang muslim, mengilmui Islam adalah merupakan suatu kewajiban dalam rangka melaksanakan tugas penghambaan kepada Allah.
Syariat Islam bersumber kepada Al Qur’an dan As Sunnah, oleh karena itu merupakan suatu keharusan bagi jama’ah untuk berusaha mempelajari dan memahami keduanya sesuai dengan kemampuannya. Agar tidak tersesat dari jalan yang benar ke jalan yang tidak diridlai Allah. Al Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia. Sudah barang tentu bagi seorang muslim harus ada keterikatan dengan Al Qur’an, berusaha mempelajari dan memperhatikannya, tidak mengabaikannya sebagaimana dikeluhkan Rasulullah.
𝘉𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭: “𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶𝘮𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭 𝘘𝘶𝘳’𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘢𝘤𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯.” (𝘘𝘚 25:30, 𝘈𝘭 𝘍𝘶𝘳𝘲𝘢𝘯).
Sebagai petunjuk bagi umat manusia agar selalu berada di jalan yang lurus Al Qur’an telah dimudahkan untuk dipelajari. Bagi jama’ah Masjid adalah wajar untuk memperhatikan dan mempergunakannya sebagai petunjuk dalam hidup ini.
𝐷𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑚𝑢𝑑𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝐴𝑙 𝑄𝑢𝑟’𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑗𝑎𝑟𝑎𝑛, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑎𝑑𝑎𝑘𝑎ℎ 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑗𝑎𝑟𝑎𝑛? (𝑄𝑆 54:17,22,32,40, 𝐴𝑙 𝑄𝑎𝑚𝑎𝑟).
𝑀𝑎𝑘𝑎 𝑎𝑝𝑎𝑘𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑝 𝑟𝑒𝑚𝑒ℎ 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝐴𝑙 𝑄𝑢𝑟’𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖. (𝑄𝑆 56:81, 𝐴𝑙 𝑊𝑎𝑞𝑖’𝑎ℎ).

As-Sunnah atau Al-Hadits

Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Setelah Al Qur’an , sumber ajaran Islam yang lain adalah As Sunnah atau Al Hadits. Al-Hadits adalah berita atas ucapan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap suatu masalah. Berita tersebut telah ada dalam kitab-kitab hadist yang telah dikenal umat Islam secara luas. Dapat dilihat dalam kitab-kitab hadits seperti yang telah disusun oleh para pencatat atau periwayat hadits di antaranya Bukhori, Muslim, Abu dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, Nasa’i dan lain sebagainya.
𝑆𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑑𝑎 𝑝𝑎𝑑𝑎 (𝑑𝑖𝑟𝑖) 𝑅𝑎𝑠𝑢𝑙𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑢𝑟𝑖 𝑡𝑎𝑢𝑙𝑎𝑑𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑏𝑎𝑔𝑖𝑚𝑢 (𝑦𝑎𝑖𝑡𝑢) 𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑟𝑎𝑝 (𝑟𝑎ℎ𝑚𝑎𝑡) 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑒𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛) ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑖𝑎𝑚𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑎 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑏𝑢𝑡 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ. (𝑄𝑆 33:21, 𝐴𝑙 𝐴ℎ𝑧𝑎𝑏).
Sunnah Rasul adalah sumber ajaran Islam yang lain setelah Al Qur’an. Selama umat Islam berpegang pada keduanya, mereka tidak akan tersesat demikian pula sebaliknya meninggalkan keduanya menyebabkan mereka tersesat dari jalan yang lurus dan terombang-ambing dalam badai kehidupan. Karena itu seharusnya jama’ah berusaha untuk mengilmui Islam dengan mempelajari Al Qur’an dan Al Hadits sesuai dengan kemampuannya tidak hanya sekedar mengikuti pendapat para Intelektual, Ulama atau Mengkaji Al Qur’an dan Al Hadits merupakan kewajiban bagi seorang muslim termasuk jama’ah Masjid.
Dimulai dari cara membaca kemudian diikuti dengan menelaah dan memahami isi bahkan bila memungkinkan sampai dapat mengajarkannya. Memang, tidak setiap muslim harus menjadi Ulama atau Kyai yang ahli Al Qur’an dan Al Hadits maupun ilmu-ilmu agama yang berkaitan dengan keduanya. Namun yang perlu ditekankan adalah adanya kesadaraan dari seorang muslim untuk mengilmui Islam dari sumbernya yang asli, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
𝐵𝑎𝑐𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 (𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑏𝑢𝑡) 𝑛𝑎𝑚𝑎 𝑇𝑢ℎ𝑎𝑛𝑚𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑖𝑝𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛, 𝐷𝑖𝑎 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑖𝑝𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑔𝑢𝑚𝑝𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑟𝑎ℎ. 𝐵𝑎𝑐𝑎𝑙𝑎ℎ, 𝑑𝑎𝑛 𝑇𝑢ℎ𝑎𝑛𝑚𝑢𝑙𝑎ℎ 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝑀𝑎ℎ𝑎 𝑃𝑒𝑚𝑢𝑟𝑎ℎ. 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 (𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎) 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑚. 𝐷𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖𝑛𝑦𝑎. (𝑄𝑆 96:1-5, 𝐴𝑙 ‘𝐴𝑙𝑎𝑞).
Selain ilmu agama sebagai tugas utama (fardlu ‘ain) dalam menuntut ilmu, jama’ah juga dianjurkan untuk mempelajari berbagai ilmu yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk mencari keutamaan sesuai dengan kemampuan dan kecenderungan-kecenderungan mereka terhadap ilmu-ilmu kealaman, sosial dan lain sebagainya.

𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐁𝐄𝐑𝐀𝐌𝐀𝐋

Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Setiap jama’ah Masjid sudah seharusnya memanfaatkan iman dan ilmu pegetahuannya dalam aktivitas kehidupan. Pemanfaatan ini merupakan wujud implementasi dalam karya berupa amal-amal shalih sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian perilaku kesehariannya akan diwarnai oleh keyakinannya terhadap Islam.
Iman bukan saja membekas di dalam hati tetapi juga terungkap dalam kehidupannya. Pengetahuannya tentang Islam tidak berhenti sebagai ilmu belaka dan pemahamannya terhadap Islam tidak terbatas sebagai islamologi sebagaimana orientalis, namun dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian iman dan ilmu yang dimiliki menjadi bermanfaat terutama bagi dirinya dan masyarakat sekitarnya.
𝐷𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ: “𝐵𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑚𝑢, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑅𝑎𝑠𝑢𝑙-𝑁𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢’𝑚𝑖𝑛 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛𝑚𝑢 𝑖𝑡𝑢, 𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 (𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ) 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝑀𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑔ℎ𝑎𝑖𝑏 𝑑𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎, 𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑘𝑎𝑛.” (𝑄𝑆 9:105, 𝐴𝑡 𝑇𝑎𝑢𝑏𝑎ℎ).
𝐵𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑟𝑗𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑚𝑎𝑙 𝑠ℎ𝑎𝑙𝑖ℎ, 𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑙𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑚𝑎𝑢𝑝𝑢𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑒𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑎𝑑𝑎𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑖 𝑏𝑎𝑙𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑎ℎ𝑎𝑙𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑘𝑎𝑛. (𝑄𝑆 16:97, 𝐴𝑛 𝑁𝑎ℎ𝑙).

𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐁𝐄𝐑𝐃𝐀’𝐖𝐀𝐇

Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Islam adalah agama bagi seluruh umat manusia, tidak hanya untuk ras atau golongan tertentu. Islam adalah agama universal. Wajar, bahkan harus, apabila jama’ah memiliki rasa terikat diri untuk menda’wahkan Islam dan menyebarkan agama ini sebagai rahmat bagi semesta alam. Jama’ah seharusnya berusaha untuk menda’wahkan Islam sesuai dengan kemampuannya kepada muslim maupun yang belum muslim.
Menda’wahkan Islam adalah merupakan komitmen muslim yang memiliki nilai kemanusiaan tinggi. Mengajak manusia kepada aqidah tauhid, membimbing mereka ke jalan yang lurus serta menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Meskipun misi da’wah dapat dilaksanakan sendiri-sendiri oleh setiap individu muslim, namun berda’wah secara kolektif dan profesional merupakan kebutuhan yang sangat perlu. Da’wah yang dilakukan secara terorganisir, insya Allah, akan dapat memberikan hasil lebih efisien, efektif dan memuaskan.
𝘋𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢’𝘳𝘶𝘧 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘨𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳; 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨. (𝘘𝘚 3:104, 𝘈𝘭𝘪 𝘐𝘮𝘳𝘢𝘯).
Jama’ah Masjid harus memegang teguh komitmennya dalam menda’wahkan Islam. Artinya mereka berusaha untuk menda’wahkan Islam kepada umat manusia serta berupaya untuk terlibat dalam aktivitas da’wah islamiah.
Keterlibatan dalam da’wah dapat dengan pikiran (bilfikr) dengan tindakan langsung (bilhal), dengan ucapan (billisan), dengan harta (bilmal), dengan tulisan (bilqalam) maupun dengan jiwa (binnafs) bilamana perlu. Semakin intensif dan beragam jenis keterlibatan jama’ah dalam aktivitas da’wah semakin lebih baik.

𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐁𝐀𝐑

Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Jama’ah Masjid harus bersabar di dalam mengikuti kebenaran. Sabar berarti berusaha untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dengan tabah lahir dan batin, serta diikuti dengan sikap tawakal kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sabar bukan berarti sekedar ‘nrimo’ atau pasrah dalam menerima masalah, namun lebih dari itu juga memiliki makna akan adanya usaha. Jadi sabar selain memiliki pengertian kepasrahan (tawakkal) kepada Allah juga mengandung makna berusaha (ikhtiyar) untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.
𝐻𝑎𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛, 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑏𝑎𝑟𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑢𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑏𝑎𝑟𝑎𝑛𝑚𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖𝑎𝑝 𝑠𝑖𝑎𝑔𝑎 (𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑛𝑒𝑔𝑒𝑟𝑖𝑚𝑢) 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑎𝑘𝑤𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ, 𝑠𝑢𝑝𝑎𝑦𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔. (𝑄𝑆 3:200, 𝐴𝑙𝑖 ‘𝐼𝑚𝑟𝑎𝑛).
Bagi jama’ah Masjid dalam rangka untuk tetap istiqomah dalam memeluk Islam akan berusaha menjadikan sabar sebagai bagian dari karakternya; serta menjadikannya sebagai penolong karena Allah beserta dengan orang-orang yang sabar.

𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐁𝐄𝐑𝐈𝐁𝐀𝐃𝐀𝐇

Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Kehadiran manusia di bumi bukan atas kemauannya sendiri, tetapi atas kehendak Yang Maha Pencipta. Manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Baik ditinjau secara psikis maupun fisik manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki kelebihan dari yang lain. Secara psikis manusia bukan saja mampu mempergunakan perasaan berfikir secara instinktif, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mempergunakan akalnya berfikir secara rasional. Secara fisik, manusia memiliki otak yang merupakan organ penting dan anatomi tubuh yang memungkinkan melakukan aktivitas gerak dengan lebih leluasa dan cekatan serta efektif. Keberadaan manusia di bumi tidak lain adalah untuk mengemban tugas pengabdian sebagai hamba Allah.
𝐷𝑎𝑛 𝐴𝑘𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑖𝑝𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑗𝑖𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑢𝑝𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑚𝑏𝑎ℎ-𝐾𝑢. (𝑄𝑆 51:56, 𝐴𝑑𝑧 𝐷𝑧𝑎𝑎𝑟𝑖𝑦𝑎𝑎𝑡).
Tugas penghambaan ini dilaksanakan manusia dengan cara melakukan ibadah, baik ibadah dalam arti khas (mahdloh) maupun dalam arti luas. Endang Saifuddin Anshari, MA, memberikan makna ibadah dalam arti khas sebagai segala tata cara, acara dan upacara pengabdian langsung manusia kepada Allah, yang segala sesuatunya secara terperinci sudah digariskan oleh Allah dan RasulNya; seperti Shalat, Zakat, Shaum, Haji dan lain sebagainya yang bertalian erat dengan hal-hal termaksud. Sedangkan ‘ibadah dalam arti luas (meliputi antara lain ‘ibadah dalam arti khas) ialah pengabdian, yaitu segala perbuatan, perkataan dan sikap yang bertandakan: (1) Ikhlas sebagai titik tolak; (2) Mardlatillah sebagai titik tuju; dan (3) Amal Shalih sebagai garis amal, termasuk di dalamnya antara lain: mencari nafkah, mencari ilmu, mendidik, bertani, bekerja-buruh, memimpin negara dan masyarakat dan lain sebagainya.
Sebagai hamba Allah manusia harus tunduk dan patuh (islam) kepada Allah.
Ketunduk-patuhan tersebut dilakukan dengan mengambil Islam sebagai agama secara kaffah. Manusia harus berani meninggalkan agama-agama atau paham-paham (isme-isme) yang sesat. Pada dasarnya semua agama itu sesat kecuali Islam. Islam-lah agama yang dibawa para utusan Tuhan Yang Maha Tahu, sejak dari Adam sampai Rasulullah Muhamad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta yang lainnya membawa risalah Islam, suatu syariat yang mengajak umat manusia menegakkan iman tauhid dan tunduk patuh kepada-Nya. Di dalam menyembah Allah, manusia harus berlaku ikhlas dan memurnikan ketaatan kepada-Nya semata.
𝐾𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ: “𝑆𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑚𝑏𝑎ℎ𝑦𝑎𝑛𝑔𝑘𝑢, 𝑖𝑏𝑎𝑑𝑎𝑡𝑘𝑢, ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝𝑘𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘𝑢 ℎ𝑎𝑛𝑦𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ, 𝑇𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑠𝑡𝑎 𝑎𝑙𝑎𝑚. 𝑇𝑖𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑢𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑔𝑖-𝑁𝑦𝑎; 𝑑𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢𝑙𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑖𝑛𝑡𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎𝑘𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑎𝑘𝑢 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎-𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑟𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑟𝑖 (𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ).” (𝑄𝑆 6:162-163, 𝐴𝑙 𝐴𝑛’𝑎𝑎𝑚).
Pemurniaan ketaatan kepada Allah adalah suatu yang diperlukan umat manusia supaya tidak terjadi penyelewengan terhadap ajaran agama yang dibawa para Rasul, seperti yang terjadi pada umat Yahudi dan Nashrani. Di dalam mengemban tugas hidup sebagai hamba Allah manusia melaksanakan fungsinya selaku Khalifah Allah di bumi, melaksanakan segala yang diridloi-Nya di atas bumi untuk mengkulturkan natur dan dalam waktu yang sama untuk meng-Islam-kan kultur. Sebagai Khalifah Allah manusia berusaha untuk memakmurkan bumi, mengolah sumber daya alam bagi kemajuan kebudayaan dan peradaban serta kebahagiaannya, mempergunakan nikmat kekhalifahan ini untuk bersyukur dalam rangka mengabdi kepada-Nya.
Manusia diciptakan Allah bukanlah dengan sia-sia, tetapi memiliki tujuan yang esensial.
Karakteristik SDM Jama’ah MASJID – Dr. Murthada Mutahhari mengungkapkan: “Dengan demikian tujuan hidup menurut Al Quraan adalah Allah itu sendiri. Segala sesuatu hanya karena Allah atau Tuhan Semesta Alam. Segalanya dikerjakan dalam rangka mempersiapkan agar memperoleh ridlo Allah. Bukan semata-mata bertujuan untuk meraih keuntungan secara bebas tanpa batas.”
Allah mencintai hamba-Nya yang beriman, yang mau mengerti akan keberadaannya di muka bumi nan fana ini. Manusia yang mau memahami keberadaan dirinya akan berusaha menjaga diri dengan berlaku taqwa kepada penciptanya, tidak larut dalam kenikmatan-kenikmatan duniawiah sehingga lupa kepada Tuhannya. Manusia yang seperti ini memilih tujuan hidup yang lebih tinggi yaitu mencari ridlo Allah (mardlatillah), dari pada sekedar mencari tujuan hidup sesaat yang tidak memiliki dimensi akhirat. Tujuan hidupnya lebih tinggi dari sekedar mencari gengsi dan popularitas.
𝐷𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑎𝑑𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑑𝑙𝑎𝑎𝑛 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ; 𝑑𝑎𝑛 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑀𝑎ℎ𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑎𝑛𝑡𝑢𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎-ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎-𝑁𝑦𝑎. (𝑄𝑆 2:207, 𝐴𝑙 𝐵𝑎𝑞𝑎𝑟𝑎ℎ).
Selanjutnya beliau menyatakan: “Banyak orang mengartikan tujuan hidup manusia sekedar untuk mencapai kebahagiaan (happiness). Yakni hanya untuk memperoleh suasana kehidupan yang menyenangkan, menikmati karunia Tuhan dengan senang hati serta terhindar dari pelbagai penderitaan, kesengsaraan, ataupun kesedihan karena faktor alamiah maupun yang berasal dari dirinya sendiri. Barangkali ini yang disebut bahagia”.
Namun kebahagiaan hidup bukanlah hanya kebahagiaan duniawiah semata, tetapi ada kebahagiaan hidup yang lebih tinggi nilainya yaitu kebahagiaan ukhrawi dalam keabadian yang penuh dengan suka cita. Bagi manusia yang taqwa, disamping dia mencari kebahagiaan hidup di dunia dia juga merasa berkepentingan dan berusaha untuk mencari kebahagiaan di akhirat yang hanya dapat dicapai dengan karena mendapat ridla-Nya.
Sebagai hamba Allah yang memikul tugas pengabdian
𝐻𝑎𝑖 𝑗𝑖𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔. 𝐾𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑇𝑢ℎ𝑎𝑛𝑚𝑢 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 ℎ𝑎𝑡𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑑𝑖𝑟𝑖𝑑𝑙𝑎𝑖-𝑁𝑦𝑎. 𝑀𝑎𝑘𝑎 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑗𝑎𝑚𝑎’𝑎ℎ ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎-ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎-𝐾𝑢, 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑆𝑦𝑢𝑟𝑔𝑎-𝐾𝑢 . (𝑄𝑆 89:27-30, 𝐴𝑙 𝐹𝑎𝑗𝑟).
Sebagai hamba Allah yang memikul tugas pengabdian, maka jama’ah Masjid berusaha untuk beribadah kepada Allah secara ikhlas dengan hanya mengharap keridloan-Nya semata. Bentuk-bentuk pengabdian dikarenakan sikap riya, ujub, takabur dan sum’ah harus dihindari karena mengurangi bahkan menghilangkan makna pengabdian itu sendiri. Dengan ber-fastabiqul khairat mereka berkompetisisi secara win-win dan menghindari sifat benci, dengki maupun iri karena tertinggal dari saudaranya; bahkan ketertinggalan itu memacu mereka untuk meningkatkan ibadah. Sekali lagi, mereka hanya mengiginkan ridlo Allah.
Keikhlasan beribadah terekspresi dalam ungkapan kalimat lillaahita’ala. Ini bukan berarti ibadah dilakukan secara asal-asalan. Bahkan dalam pengabdian mu’amalah jama’ah Masjid perlu berlaku militan, profesional, efektif dan efisien. Sikap ikhlas tidak membelenggu mereka dalam kejumudan dan ketidakberdayaan, tetapi menjadi pendorong untuk berkreasi dengan lebih baik.

Submit your response

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *